Meneladani Sifat Allah dalam Kehidupan Sehari-hari

 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata sifat memiliki arti rupa dan keadaan yang tampak pada suatu benda; tanda lahiriah. Kalau pada benda, sifat itu akan menjadi salah satu cara untuk membedakannya. Misal­nya, bersifat cair, padat dan gas. Sementara untuk ma­nusia, sifat adalah berkaitan dengan lahiriah. Sese­orang akan terlihat sifatnya ketika bertingkah laku, bermasyarakat dan bersosialisasi dengan sesama umat manusia.


Sifat manusia juga menjadikannya mudah dikenal. Ada yang sifatnya suka memberi, suka menolong dan ada juga yang sifatnya suka mengganggu, sombong dan suka merendahkan orang lain. Sifat-sifat Allah seha­rusnya tercermin dalam perilaku hidup kita sebagai anak-anak-Nya.

Alkitab menuliskan “Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana. Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaan­nya; lebih baik orang miskin dari pada seorang pembo­hong. Takut akan Allah mendatangkan hidup, maka orang bermalam dengan puas, tanpa ditimpa mala­petaka.” (Amsal 19 : 21-23)


Manusia memiliki banyak rancangan dalam kehi­dupannya. Kalau kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, manusia yang tidak memiliki rancangan hidupnya akan biasa-biasa saja. Karena Tuhan memiliki ranca­ngan bagi setiap kita. Kita boleh merancang banyak hal, dan menyerahkannya pada Tuhan. Terwujud tidak­nya sebuah rancangan tergantung pada kita, apakah kita mau bekerja keras, berharap pada Tuhan dan selalu sabar menunggu jawaban Tuhan.


Di dalam Alkitab ada banyak ayat yang menuliskan tetang sifat-sifat Allah. Dan sifat Allah ini banyak yang bisa kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Beberapa sifat ini adalah unik bagi Allah, sedangkan yang lain tampak juga di dalam diri manusia sebagai akibat penciptaan-Nya menurut rupa Allah.


Allah itu Mahahadir, Dia ada di mana-mana pada saat yang bersamaan. Pemazmur mengatakan bahwa ke manapun kita pergi, Allah ada di situ; Allah melihat segala sesuatu yang kita lakukan. Allah selalu beserta kita dimana pun kita berada.


Allah itu Mahatahu, Ia mengetahui segala sesuatu. Dia mengetahui bukan saja perbuatan kita tetapi juga pikiran kita. Apabila Alkitab berbicara tentang pra-pengetahuan Allah, yang dimaksudkan ialah bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang mungkin seba­gai mungkin, yang pasti sebagai pasti, segala sesuatu yang tergantung sebagai tergantung, segala sesuatu yang akan datang sebagai akan datang, segala sesuatu yang lalu sebagai yang lalu, semuanya yang ditentukan dari semula sebagai kepastian yang telah ditetapkan sebelumnya.

Komentar